DUA ORANG DALAM KEPALAKU

4

Pemikiranku sedikit rumit.

Sekali lagi kukatakan, pemikiranku sedikit rumit.

Untuk mengambil suatu keputusan atau tindakan apapun, dua orang dalam kepalaku selalu berdebat.

Paham mereka selalu bertentangan. Tidak selalu hitam dan putih. Tapi, yang pasti keduanya selalu bertentangan.

Seperti kemarin, ketika aku sedang menjadi panitia acara di kantorku. Sosok satu mendorongku menyisihkan sebagian untuk insentif kepanitiaan, toh tim sudah bekerja hingga larut. Sosok satunya lagi, menolak mentah-mentah. Meskipun laporan keuangannya transparan, hal ini kan tidak tertera dalam standar operasional.

Ah, jangankan peristiwa serumit itu. Ketika hendak membeli kemeja saja, mereka berisiknya bukan main.

“Biru bagus!”

“Bagusan merah!”

“Merah terlalu terang. Kenapa tidak hijau saja?”

“Hijau, bukannya sudah terlalu banyak?”

“Ya sudah, biru saja!”

“Jangan, pilih warna netral. Hitam!”

“Putih!

Ujung-ujungnya, aku tak jadi membeli.

***

Hari ini, aku tergagap di depan laptop. Berusaha mencari ide dan merangkai kisah memenuhi kejar target yang kujanjikan.

Ketik separagraf.

Hapus.

Ketik dua baris kalimat.

Hapus.

Ketik sebaris kalimat.

Hapus.

Ah, aku tak punya ide sama sekali.

Dua sosok itu akhirnya kembali beraksi.

Reinkarnasi!”

“Onomastika!”

Sahut mereka hampir bersamaan.

“Kisahkan perjuangan seorang bayi memohon kepada Tuhan untuk diberi kesempatan kedua!”

“Ceritakan kisah anak keempat yang bernama Dwi dengan nama marga di belakangnya!”

Ujar keduanya berapi-api.

“Bayi itu memohon untuk lahir kembali dari rahim ibu yang tak akan menggugurkannya lagi!”

“Jelaskan bagaimana ia mencari asal-usul namanya, keluarga aslinya dan asalnya.”

Aku berpikir. Mempertimbangkan masukan mereka.

Ideku bagus!”

“Ideku lebih bagus!”

“Kau pasti memilih mengeksekusi ceritaku!”

“Ceritaku!”

Diam kalian!

Aku punya cerita sendiri!

Aku pusing.

Benar kan, pemikiranku sedikit rumit.

~ah, maafkan FF jelas ini. Tapi yang pasti, selamat ulang tahun MFF!

Jayapura, 31 Jan 15.

Fragmen Manusia

7

Aku terlahir kembali menjadi Ariya.
Raga ini yang dulu kudamba-damba. Cerdas, tampan, kaya raya dan bersahaja.
Namun, aku tidak bahagia, Ariya tidak bahagia.
Menjadi Ariya, aku terlalu sibuk mengejar karier, menjaga hubungan sosial dengan topeng-toping munafik.
Kau harus menikah, usiamu sudah matang. Begitu saran San, sahabat Ariya-sahabatku sekarang.
Bagaimana aku bisa menikah, jika standarku terhadap wanita sangat tingginya. Wanita-wanita yang mendekati Ariya hanya mengincar harta, bukan mencari cinta. Entahlah, akupun belum punya banyak waktu untuk memikirkan semuanya, ujarku yang keluar dari mulut Ariya.
San tidak menanggapi lagi, ia hanya berujar satu hal sebelum menutupi pembicaraan, sejak kecelakaan itu aku berubah, katanya.
***
Tuhan mungkin lupa menghapus memoriku. Aku masih ingat betul bagaimana kehidupanku sebelumnya.
Namaku dulu Agus. Gengsiku terlalu besar untuk mengaku sebagai pengemis. Namun, masih kurasa betul bagaimana aku makan dari sisa-sisa sampah pesta. Kadang kumuntahkan tiba-tiba jika suatu kali aku menemukan ulat merayap di sebelah nasi yang telah mulai menguning. Akhirnya, toh aku mulai terbiasa.
Masih kurasa juga bagaimana malasnya Agus, iya aku maksudku. Bukan, aku bukannya malas, tapi aku tak mampu. Aku tak punya kompetensi dan kapabilitas. Otakku terlalu lambat untuk berpikir sebagai orang kantoran, sedangkan ototku terlalu lemah untuk bekerja menjual tenaga.
Maka kepada siapa lagi aku harus meminta pertolongan?
Iya,kepada Tuhan.
Setiap hari aku berdoa pada-Nya, meminta di kehidupan selanjutnya aku tidak seperti ini. Aku benci menjadi seperti ini.
Lalu, suatu hari ketika, aku mencari makan di tempat biasa. Secara tiba-tiba, sebuah mobil melaju kencang hilang kendali dan menabrakku sehingga selanjutnya aku hanya melihat cahaya yang sangat terang.
Tak lama, aku sadarkan diri. Dan telah berada di dalam mobil dengan kondisi kepala sedikit berdarah akibat terbentur pada setir. Di depan sana, kulihat jasadku meregang nyawa, jasad Agus.
***
San, benar. Sejak kecelakaan itu Ariya berubah.
Tuhan, aku ingin kembali seperti dulu saja. Doaku.
Tengah malam, aku terbangun karena mendengar suara berisik dari arah ruang tamu rumah besarku. Kususul suara gaduh itu, dan mendapati seorang gembel lusuh dengan linggis di tangannya. Satu pukulan telak menghantam kepalaku.
Selanjutnya, bisa kau tebak.
Iya, kini aku berada dalam raga orang yang sangat bau itu.

~HI, 24 Desember 2014, Excelso Jayapura~

CERITA EMPAT MATA

16

Prompt 69 - Indah Lestari

Matamu candu.
Sudah banyak yang selalu bilang begitu, tak mempan!
Aku serius.
Aku juga serius.
Matamu biru kelabu.
Matamu pun biru kelabu.
Bulu matamu lebih lentik.
Apa bedanya denganmu? Tak kau lihat lentik begitu?
Matamu sakti, bisa melihat hantu.
Apa istimewanya bisa melihat hantu?
Kau bisa melihatku.
Apa istimewanya aku bisa melihatmu?
Bisakah kau sedikit tertarik denganku?
Secara fisik, tampilanmu tidak menarik. Ini karena aku punya urusan saja denganmu.
Kau tega.
Hahaha, belum pernah kulihat setan merajuk.
Aku setan yang punya perasaan.
Berarti kau lebih mending dari manusia yang menjadi wakil rakyat di sana.
Jangan bahas politik dulu, aku masih mau mengagumi matamu.
Berhenti membahas mataku.
Kau mau bahas apa saja, asal jangan politik. Aku muak.
Aku pun.


Kau diam?
Aku harus bicara apa?
Ceritakan tentang matamu.
Cerita apa lagi? Kau sudah tahu semuanya kupikir.
Aku suka kau menceritakannya lagi.
Berhentilah memujiku seperti ini. Iya, aku tahu ini juga berkatmu.
Kumohon cerita lagi. Aku suka kebanggaan diri.
Berkat mata ini, aku berhasil menarik banyak mata lelaki.
Lalu, apa lagi?
Mereka memberiku apa yang kumau.
Terus, terus?
Begitu seterusnya, sampai mereka tak mampu memberiku sesuatu lagi. Aku mencari lelaki lain.
Kau nakal.
Kau yang membujukku.
Kau yang memintaku.
Sebenarnya itu usul temanku.
Aku senang bekerja sama denganmu.
Aku biasa saja. Hmm, jangan terlalu berharap aku jatuh cinta padamu.
Aku tidak berharap. Aku setan yang profesional.
Bagus kalau begitu. Oh iya, besok, ada temanku yang juga mau memasang susuk di matanya. Kau siap-siap, ya?
Siap, Nyonya.

~HI, Jayapura 3 Nov 14~

BUDAK-BUDAK KORPORASI

7

“Ajen, mana dokumen yang kemarin? Lo janji-janji mulu deh,” ketus Vanda menghampiri Ajen yang sedang sarapan di pantri.
“Eh, setan. Itu sebenernya tugas lo, yah. Masih untung mau gue bantuin!” Ajen merengut.
“Itu tugas lo juga kali sebagai kacung Pak Bos, Nyet!”
“Lo diem atau gak gue kerjain!”
“Lo maunya apa sih? Cari perhatian Pak Bawole doang sih bisanya.”
“Taik lo, yah. Lo pikir gue gak tau hubungan elo ama Pak Aam? Mau gue laporin Bu Hana?” Vanda diam, lalu memucat.
“So-sori, Van. Iya, nanti gue kelarin sebentar lagi.”
Suara berdeham tiba-tiba terdengar dari belakang Ajen. Suara deham Bu Hana.

~HI, 11/9/2014, Jap~

BANGKU TAMAN DALAM KEPALAKU

6

Setiap sore, dia datang. Duduk di sana untuk waktu yang lama. Menikmati bunga-bunga dalam kepalaku. Aku tak berani bertanya untuk apa dia selalu datang ke sini. Kutakutkan justru akulah yang mengundangnya ke sini. Entahlah, yang pasti aku menikmati memandanginya.
Suatu sore, dia tak datang. Bangku taman itu kosong. Lantas, seorang gadis lain mendekat dan duduk di sana. Tidak sendiri, karena tak lama datanglah kekasihnya. Kuajak diskusi keduanya, ini bukan tempat mereka. Mereka menerima dan pergi.
Bangku itu kini kosong. Lapuk dimakan rayap. Ditumbuhi lumut dan alang-alang.
Perasaanku jangan kau tanya. Sebab, bangku itu sudah kusingkirkan ke rubanah, bersama dengan kepala.

~ HI, 10/9/2014, Jap ~

KELAS DUA

9

Mulai hari ini aku sudah kelas dua. Aku sudah mahir baca-tulis-hitung. Aku sudah bisa membaca majalah-majalah usang yang dipulung ayah. Atau menulis surat untuk Santa. Dan tentu saja, membantu ibu menghitung hasil jualan asongnya. Ah, aku sudah tidak sabar menerima ilmu baru yang banyak.

Hari pertama sekolah, materinya hanya saling memperkenalkan diri di depan kelas. Ibu guru memandunya dengan menyenangkan, menanyakan nama lengkap, tanggal ulang tahun, dongeng favorit hingga kegiatan di akhir pekan. Berkat perkenalan ini, aku tahu nama-nama mereka. Meski mereka tak tahu namaku – mereka memang tak perlu tahu karena aku hanyalah siswa yang belajar dari luar jendela.

~ HI, 9/9/201, Jap ~

PETUAH NENEK

15

Kata nenek, ketika berdua akan ada orang ketiga: setan. Setan itu jahat. Setan musuh manusia. Setan menjerumuskan manusia.
Mula-mula: Bibi. Bibi orang ketiga di antara ibu dan bapak. Bibi adalah setan. Setan harus dimusnahkan. Maka kubunuhlah si bibi.
Lalu, adikku. Dia lahir delapan tahun setelahku. Dia juga orang ketiga. Dia setan. Harus kubasmi juga, kan?
Nenek pun pernah jadi setan, ketika dia tinggal lama di rumah kami. Terpaksa kuhilangkan nenek.
Sebenarnya akulah yang pertama kali menjadi orang ketiga. Makanya, kubunuh diriku dua tahun lalu, seminggu setelah nenek memberi petuah. Dan aku, akan selalu menjaga petuah itu.
Iya, sampai sekarang.

~HI, 8/9/14, Jap~