Bertemu Parakang

(source gambar)

Kudukku meremang ketika berada di ujung jalan setapak yang temaram. Langkahku terhenti satu-satu ketika kuingat kembali cerita orang-orang. Batinku mencoba menangkis dengan berusaha berpikir logis, namun sugesti itu terlalu kuat, aku tetap gentar melangkah masuk. Padahal magrib sebentar lagi berakhir, dan tak kunjung satu pun kerabat atau tetanggaku yang lewat. “Paling tidak, aku punya teman untuk melewati jalan setapak ini,” begitu batinku. Seandainya aku punya alternatif lain memilih jalan pulang, mungkin aku tidak akan separno sekarang.

Sembari menunggu, tasbih dan lantunan doa tak henti-hentinya kulafalkan. Kekhawatiranku beralasan. Desa ini terkenal banyak parakang – makhluk jejadian lokal Sulawesi Selatan, semacam leak kalau di Bali atau Kuyang di Kalimantan. Kalau sejak dulu kutahu, tak kubiarkan suamiku menerima mutasi ke daerah ini.

Azan isya berkumandang dan belum ada tanda-tanda seseorang yang akan lewat. Aku pasrah, sesekali kuturuki diriku sendiri, “Lain kali, jam pulang ya langsung pulang, tak usah sok-sok melembur di kantor. Kau ini sedang hamil dan suamimu sedang dinas ke kota!”

Asaku kembali terbit ketika kulihat Ramang, tetanggaku, berjalan menuju tempatku berdiri.

“Baru pulang, Bondeng?” sapanya menghampiriku.

“Iya, Daeng Ramang. Tadi ada kerjaan nanggung buat diselesaikan, sekalian nyicil biar nanti pas cuti melahirkan aku tidak kepikiran,” aku melemaskan ketegangan sedari tadi dengan sebuah senyuman.

“Oh, kandunganmu sudah berapa bulan?” tanyanya.

“Sudah masuk bulan keenam, Daeng,” ujarku sembari mengusap perut buncitku.

“Oh, baguslah. Dijaga tuh kandunganmu, jangan terlalu keras bekerja. Omong-omong, kamu kenapa berdiri di sini? Nunggu seseorang?” tanyanya, lagi.

“Oh tidak, Daeng. Aku hanya kepikiran cerita orang-orang. Hmm.. tentang parakang. Katanya di desa ini banyak makhluk itu. Dan pohon pisang dan rawa di sekitar tepi jalan setapak itu sarangnya. Aku sedikit takut, apalagi katanya parakang sangat menyukai janin dalam kandungan.”

“Hahaha.. Kamu tak usah takut. Cerita itu hanya mitos, mungkin biar anak-anak desa sini tak berkeliaran menjelang magrib. Ya sudah, ayo bareng aku saja. Haha.. kupikir ada apa.” Syukurlah, ucapan Ramang sedikit menenangkanku.

“Iya, terima kasih, Daeng,” sedikit tergopoh, kuikuti langkahnya dari belakang.

“Suamimu ke mana? Kok tidak biasanya dia tak menjemputmu?” seandainya ia orang asing, mungkin aku akan sedikit risih ditanya seperti ini.

“Oh, sedang penataran di Makassar, Daeng. Besok lusa baru pulang. Birokrasi sekarang makin ribet, untuk naik golongan saja mesti ada sertifikasi macam-macam.”

“Ooh.. berarti kamu di rumah sendirian?” Keningku mengerut mendengar pertanyaannya kali ini, padahal sengaja kuarahkan ke obrolan yang sedikit santai.

“Hmm.. ada adikku, Daeng.”

“Ooh…”

Aku agak terganggu dengan reaksinya barusan. Aku mulai merasa ada yang aneh dengan Ramang.

“Hati-hati, mungkin mitos parakang itu benar adanya!”

Dan benar, Ramang memang sengaja membuatku takut, entah apa tujuannya. Yang pasti, aku benar kembali ketakutan. Kupercepat langkahku, kulambung ia dan kutinggalkan di belakang.

Hingga langkah ke sembilan belas, aku menoleh ke belakang dan terkejut, ia sudah tidak kelihatan. “Ramang sialan! Meninggalkanku dalam kondisi ketakutan dan…” Belum habis kesal bercampur takutku, sesosok makhluk menyeramkan tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku bergeming, kengerian menyelimutiku, pandanganku kabur lalu kosong, gelap.

***

“Halo, kenapa, Tarring?”

“Anu, Daeng. Kakakku, istrimu, perutnya kempes!”

“Innalillahi, astaga, pelankan ceritamu, Dek. Kenapa bisa?”

“Kak Bondeng, kata orang-orang, bayinya diisap parakang. Waktu pulang dari kantor tadi. Ia ditemukan pingsan di sekitar setapak yang banyak pohon pisang. Cepatki’ pulang, Daeng. Kak Bondeng terus-terusan menangis dan kayak orang ketakutan.”

“Iya, iya, sebentar lagi saya langsung ke terminal. Ada siapa saja di rumah sana? Panggil Pak Haji, minta tolong doakan!”

“Pak Haji tidak ada di rumah, dia ke Bulukumba, ada hajatan keluarganya. Di sini hanya ada saya sama tetangga yang dari tadi sudah bantu baca-baca, tapi Kak Bondeng makin kayak ketakutan.”

“Siapa yang bantu baca-baca?”

“Daeng Ramang!”

“Astagfirullah, dia itu paraka….!”

Telepon tiba-tiba terputus, Tarring semakin panik ketika listrik ikut-ikutan padam. Dan, sebuah teriakan panjang datang dari kamar Bondeng. Tarring gemetaran. Lalu duduk tersungkur, tak lama bau amis mulai tercium, bau amis darah.

** Parakang adalah manusia jejadian yang salah dapat ilmu. Bisa dibilang ilmu (mungkin kutukan) ini dapat diwariskan turun temurun, sehingga orang-orang keturunannya sering dicurigai sebagai parakang. 

 ~ HI, 11 Sept 2013, Kosan ~

About these ads

16 thoughts on “Bertemu Parakang

  1. hm hm… nggak ada keterangannya nih? jadi parakang itu semacam hantu pengisap janin. Atau manusia? Lalu darimana suami si bondeng tahu kalau ramang itu parakang?

  2. hoh, ke sini lagi, judulnya udah ganti ternyata. begitu baca sampe abis, alhamdulillaah ada keterangannya apa itu parakang. pertama baca ini bbrp waktu lalu, aku sampe googling apa itu parakang. hahhaha. nanya suami, ga tau, ya udah googling deh. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s