TENTANG TERSERAH

2

Sudah setahun belakangan ini hubunganku dengan Munaroh terbilang hambar. Tak hangat lagi seperti di awal kami mengikat pertalian rumah tangga. Tak ada lagi yang namanya kecupan selamat pagi, masakan hangat di siang hari atau sekadar bercerita menjelang tutup hari.

“Bangun, kamu tidak kerja?” katanya pagi itu, ia berdiri di depan lemari besar sebelah ranjang kami sembari menggelung rambutnya.

Aku tak menjawab pertanyaannya, malah sisi mukaku kualihkan ke arah yang satunya. Tak lama, kudengar pintu terbuka sedikit, “Terserah kamu lah mau kerja apa tidak, yang pasti aku dan anak-anakmu masih butuh makan sampai sekarang!” katanya kemudian diiringi bantingan pintu yang kasar.

Tak tahan, akhirnya aku bangkit dan bergegas menuju kamar mandi. Lagipula aku baru ingat, hari ini aku harus meeting tentang proyek baru di luar kota.

“Aku berangkat, mungkin nanti malam aku pulang agak terlambat!” kataku pada Munaroh, ia sedang menyuapi anakku yang berusia dua tahun.

“Terserah, bukannya setiap hari selalu begitu?” jawabnya sinis. Aku hanya mengangkat bahu menanggapi reaksinya, sembari kuusap rambut anak sulungku, “Papa berangkat dulu yah, Sayang.”

***

 “Aku dapat proyek baru di kantor,” kataku sambil melonggarkan dasi, jas yang tadinya tersampir di punggung kulemparkan begitu saja di atas ranjang.

“Baguslah, itu berarti anak-anakmu masih bisa makan.” Jawabnya tak bersemangat, menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya menjadi daster.

“Proyeknya di luar kota. Aku harus ke luar kota dalam waktu lama,” lanjutku.

“Terserah kamu lah, kamu sendiri yang berhak mengatur hidupmu, mana yang baik dan tidak!” ia melenggang tak peduli, lalu berbaring dan menutupi badannya dengan selimut.

“Kamu jangan terserah saja, aku meminta pendapatmu sebagai istriku, Munaroh!” kujaga suaraku agar tak sampai terdengar ke kamar anak-anak.

“Syukurlah kamu masih menganggapku istrimu,” ia berbalik, lalu berkata sinis.

“Sebenarnya, maumu apa Munaroh? Aku harus bagaimana biar kamu bisa memaafkan kesalahanku?”

“Aku tidak ingin apa-apa, cukup jalani saja kehidupan ini sampai anak-anak  dewasa, lalu selanjutnya terserah, kamu boleh memilih jalanmu sendiri, aku pun sama!”

“Munaroh, aku benar-benar menyesal…”

Belum selesai kalimatku ia memotongnya, “Kamu pikir aku tak tahu soal Ratni? Atau Susan? Sudahlah, Akbar. Kamu tak pandai berbohong! Dan kamu memang tidak pernah berubah.”

Kata-katanya menghantam telak, aku bergeming.

“Kamu diam? Sudah, aku mau tidur!” katanya mematikan lampu meja.

***

“Bangun, kamu tidak kerja?” katanya pagi itu, ia berdiri di depan lemari besar sebelah ranjang kami sembari menggelung rambutnya.

Aku tak menjawab pertanyaannya, malah sisi mukaku kualihkan ke arah yang satunya. Tak lama, kudengar pintu terbuka sedikit, “Terserah kamu lah mau kerja apa tidak, yang pasti aku dan anak-anakmu masih butuh makan sampai sekarang!” katanya kemudian diiringi bantingan pintu yang kasar.

“Munaroh…” sergahku sebelum pintu rapat sempurna.

“Hmm…”

“Ngg.. tidak jadi. Tidak apa-apa.”

Ia memandangku heran lalu menutup kembali pintu kamar.

***

“Aku dapat proyek baru di kantor,” kataku sambil melonggarkan dasi, jas yang tadinya tersampir di punggung kulemparkan begitu saja di atas ranjang.

“Baguslah, itu berarti anak-anakmu masih bisa makan.” Jawabnya tak bersemangat, menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya menjadi daster.

“Proyeknya di luar kota. Aku harus ke… Ngg.. Aku tidak jadi mengambilnya.”

“Hmm.. Terserah, itu kan pilihanmu.” Katanya mematikan lampu meja.

***

“Bangun, kamu tidak kerja?” katanya pagi itu, ia berdiri di depan lemari besar sebelah ranjang kami sembari menggelung rambutnya.

“Iya, terima kasih, Munaroh. Jam berapa sekarang?” kataku mengusap muka.

“Jam enam. Hmm.. Kamu mau kusiapkan air panas?” tanyanya ragu.

Aku mengangguk cepat, kesempatan kali ini aku tidak mau kembali tersasar.

Sementara ia menuju ke luar kamar dengan kening mengernyit, mencuri pandang padaku yang sedikit tersenyum. “Hari ini kamu agak aneh,” katanya.  

 

~~~

*cerita ini merupakan interpretasi lain dari @fiksimini RT @harry_bawole: DI PEREMPATAN JALAN. “Kiri atau kanan? Jangan bilang terserah, sudah setahun kita tersasar.”

 

 

 

~ HI, 25 Mei 2014, Jakarta ~ 

PERKARA TAHI LALAT

2

Lelaki memeluk wanita dari belakang, mengecup tengkuknya lalu membawanya ke tepi ranjang. Mereka bercakap ringan, penat seharian menjenuhkan pikiran.
“Tahi lalatmu itu cantik, coba kamu melamar jadi artis.”
“Aih, artis pendatang baru tak setua aku!”
“Bicara tahi lalat, anak kita nanti mau ditaruh di mana tahi lalatnya?”
“Aku terserah, tapi kusarankan jangan di bawah hidung sepertiku, ini membuat susah bernapas. Atau sepertimu, tepat di pinggir mata, itu mengganggu?”
“Sedikit. Lalu di mana enaknya? Di tengah pipi kanan persis seperti Revalina S Temat, idolaku?”
“Ah, tidak mau, di dagu kiri saja seperti Rano Karno, favorit pada zamanku!”
“Tidak mau, di bawah dagu menjadi bagus jika berkumis, Sayang!”
“Tapi, di tengah pipi tak nyaman dipandang.”
“Di jidat?”
“Susah sujudnya! Di bawah mata?”
“Menghalangi airmata mengalir di pipi, tak indah! Di atas bibir?”
“Itu mengganggu saat ciuman!”
“Lalu di mana?”
Keduanya berpandangan sejenak, terdiam, lalu tersenyum.

Hingga mereka menua dan menjelang ajal, keduanya sepakat tidak memiliki anak, sebelum menemukan letak yang tepat, untuk tahi lalat.

TANYA JAWAB SEPELE

3

“Yang, aku pengen nanya deh. Kenapa yah kok lagu Pelangi itu cuman nyebutin merah, kuning, hijau? Padahal ada warna lain.”
“Hmm, mungkin karena ketiganya itu warna dasar!”
“Yang warna dasar kan biru! Bukan hijau.”
“Iya juga sih. Iseng kali penciptanya.”
“Hmm, trus, tau gak kenapa hanya Sailormoon yang mengambil nama satelit, padahal yang lain nama-nama planet. Itu pertanyaan paling penting yang belum terjawab dari aku kecil!”
“Aku malah lebih penasaran, kenapa tokoh utama cowoknya cuman tuksedo bertopeng!”
“Pesan terselubung tentang poligami? Hahaha…”
“Mungkin.”
“Oia, trus kenapa restoran ini ada kunci pintunya padahal buka 24 jam?”
“Ya, biar sah sebagai pintu aja. Tanpa kunci rasanya kurang afdol. Ada apa, Sayang? Kok nanya-nanya kayak gitu?”
“Gak papa, tiba-tiba kepikiran hal-hal sepele aja.”
“Bertanya tuh hal-hal yang beresensi.”
“Kayak apa?”
“Misalnya, kenapa kamu bisa jatuh cinta ke aku?”
“Kamu soalnya baik dan perhatian ama aku!”
“Suamimu bukannya lebih dari itu? Dia itu sudah tampan, mapan dan mungkin setia!”
“Sekali lagi kamu bahas suamiku, kita putus!”

~HI, 26 Feb 2014, Kosan dongeng sebelum tidur~

PENGAGUM RAHASIA

1

Aku secara saksama mengamati sosok yang memunggungiku, yang menatap layar kotak dan menampilkan gambar hitam putih. Ia tampak asyik betul menyelami setiap kata yang dilontarkan pembawa Dunia Dalam Berita. Aku tak perlu mengganggunya, cukup menunggunya berbalik, maka sudah.
Ia menikmati siaran berita yang ditutup dengan informasi prakiraan cuaca di berbagai kota. Kuperhatikan, ia kemudian sesekali menguap dan menggaruk ketiak berbulu tipisnya.
Sejak dua hari yang lalu, aku belum pernah sekalipun melihat wajahnya, hanya wajah suaminya yang suka memerintah itu saja. Aku semakin penasaran.
Ia akhirnya bergerak ke benda kotak, memencet satu tombol maka gelaplah layar.
Tapi kemudian ia berbelok ke kiri, bukan ke belakang, ke arahku. Aku sedih sekali.
Terdengar suara pintu kamar terbuka sebentar lalu tertutup kembali. Suara berat suaminya terdengar samar, ah sudahlah, aku tak peduli. Aku hanya mematung di sudut yang sama. Setiap hari.
Hingga keesokan harinya, aku dilimpahi anugerah.
Ia berdiri persis di depan mukaku.
“Paaa, ini patung kuda baru dibeli yah? Kok ditaruh di sini?”

~HI, 19 Feb 2014, kosan~

Jatuh Cinta Si Pendiam

0

Gambar diambil dari sini

Aku jatuh cinta padanya. Aku tak perlu bilang, karena dengan diampun ia semestinya tahu kalau aku cinta.

Namun, sejak kulancarkan hasratku memilikinya, ia malah menghindar, “Kamu sakit, Dwit! Tindakanmu kemarin gila!”

“Dwitty, ampuni aku! Aku janji, tak menyakitimu lagi! Aku janji!”

Dia bohong, ia pasti akan meninggalkanku.

“Sakit, Dwit! Sakit!”

Dia belum merasakan sakit hatiku sebelum ini.

“Kumohon, Dwit!”

Aku berhenti menggoreskan sayatan di dada kirinya, bergeming memandang matanya.

“Aku mau menikah denganmu, aku mau! Aku janji!”

Kurenggangkan jeratan pahaku di atas perutnya, tangannya masih terikat.

Ketegangan mengendur, napasnya naik turun.

“Maafkan aku, Dwitty. Aku tahu, dulu aku salah! Maafkan aku, Sa-sayang…”

Aku tersenyum, getir. Sudah lama sekali aku tak disapa seperti itu. Dan dia tahu, tahu persis kepada siapa aku mendamba dipanggil seperti itu.

“Lalu dulu mengapa kau malah menikahi ibuku, Rindo?”

Tanyaku membawa panik di wajahnya.

“Jawab yang jujur, Do! Harta?”

Tak perlu dijawab, aku sudah tahu jawabannya.

Sebilah pisau tertancap dan Rindo yang tersengal mengurai nyawa, menyusul ibuku.

~dikembangkan dari Fiksimini yang ditulis Petronela Putri di Grup WA BFG: LELAKI ASING DI DALAM FOTO KELUARGA. Kuhabisi nyawa ibu demi merebutnya kembali.

~HI, 12 Feb 2014, Perumda Jaksel~

GADIS ITU BERNAMA DONA

2

Image

 

gambar diambil dari sini

 

Perempuan yang cantik paras dan semerbak wanginya itu bernama Dona. Gadis yang senantiasa menebar senyum lalu merunduk malu-malu tatkala melintas depan rumahku. Kuakui ia membuatku penasaran setengah mati sejak kepindahannya sebulan yang lalu.

Perempuan yang cantik paras dan semerbak wanginya itu bernama Dona. Saat ini telah termasyhur seantero kompleks. Tak ada yang tidak mengenal Dona, lelaki muda, tua, pun dengan ibu-ibu.

“Hati-hati, Dona itu pake susuk! Dijaga yang bener suaminya!” cetus Mamih, biang segala gosip.

“Ih, amit-amit deh. Tau gak katanya Dona itu simpanan pejabat! Makanya dia tinggal di kompleks terpencil kayak gini!” Windry ikut menyeletuk.

Percakapan seperti itu sudah sering kudengar dan aku tidak percaya – atau mungkin tidak peduli. Yang pasti aku sangat penasaran dengannya, terlepas itu pengaruh magis atau bukan.

“Mas Danis, mau ngapain nyemperin Dona malem-malem gini? Bella, pacarnya, apa gak marah?”

“Panggil aku Niz, biar gaul kayak Nez. Don, kamu pake apaan sih, Nek? Mukamu merona gitu, aku juga mau dong, tapi please jangan bilang-bilang Bella yey.”

 

~HI, 5 Pebruari 2014, J.Co~

 

LAKON PERI

11

Image

sketsa oleh Masya Ruhulessin

 

Clira menyeka bulir di matanya, “Aku tidak apa-apa, tadi aku hanya terharu melihat Repla. Ada apa kau mencariku?”

“Repla berulah lagi? Semoga Ratu Peri tidak melihat tingkahnya!” Serge menduga.

“Tidak, Repla tidak berbuat onar! Malah sebaliknya, kupikir ia sudah insaf,” bela Clira, “barusan kulihat ia membantu seorang nenek menyeberang jalan.”

“Lagi-lagi dia menyamar jadi manusia? Sudah berulang kali ditegaskan kalau itu terlarang!” Serge mendengus, kupingnya yang lancip bergerak-gerak kala marah.

“Sudahlah, Serge. Biarkan aku yang memberitahunya. Oh iya, ada apa?” Clira mengalihkan pembicaraan.

“Kau dicari Ratu Peri, sepertinya besok giliranmu menyemai hujan!” jawab Serge, terdiam sebentar lalu melanjutkan, “Di mana Repla sekarang?”

“Eh, di-dia baru saja ke bilik sebelah, sarapan mungkin.”  

***

“Repla, kau menyamar lagi jadi manusia?” Serge dan Bapola menghampiri Repla yang sedang menyesap nektar, sayapnya mengayun pelan.

Repla tak mengacuhkan, masih asyik membaui bunga-bunga.

“Repla, kau tidak berhak turun ke Bumi tanpa perintah!” Bapola menaikkan sedikit nada bicaranya.

“Kenapa? Salah jika aku membantu manusia?” Repla menantang.

“Tidak salah! Tapi itu bukan wewenangmu, kau tak berhak ikut campur urusan manusia, tugasmu melaksanakan perintah Ratu Peri!” Serge turut bicara, berpihak dengan Bapola.

“Sstt, sudah! Kalian ini kenapa? Bapola, Serge, bukankah sekarang giliran kalian untuk menebar zat hara dalam tanah Eropa?” Clira kemudian muncul melerai ketiganya.

“Untung kau datang, Clira. Urus temanmu yang keras kepala ini!” ketus Bapola lalu menghilang bersama Serge.

“Repla…” sapa Clira, pelan.

“Ada apa, kau juga mau menegurku? Sudah, aku tidak bakal kapok turun ke sana buat bantu manusia.”

“Tidak, Repla. Aku mendukungmu. Aku malah ingin sepertimu.” Clira merunduk, menahan air mata.

“Kenapa kau mendukungku, Clira? Aku ini pembangkang Dunia Peri, semuanya sinis padaku! Hanya karena kebijaksanaan Ratu Peri lah aku masih di sini!”

“Tapi tidak lama lagi kau bakal menetap di bawah sana, Repla.”

“Maksudmu? Aku tidak mengerti!”

“Baru saja Ratu Peri memberi tahu aku bahwa kau akan menjelma menjadi manusia seutuhnya, tugasmu sebagai peri sudah dibekukan.”

“Kau serius? Itulah inginku. Di mana Ratu Peri sekarang? Kapan aku bisa menjadi manusia?”

“Ratu tadi sedang ke Kayangan, meminta persetujuan dari Sang Kuasa. Semoga segera dikabulkan. Jika kau senang, aku turut berbahagia.” Air mata Clira kembali membulir di sudut mata.

Repla menangkap kesedihan di wajah Clira, “Terima kasih, Clira. Kau betul sahabat terbaikku. Aku tak akan pernah melupakan kebaikanmu. Tetaplah menjadi peri yang lurus.”

“Kalian berdua akan menjadi manusia sebentar lagi!” Ratu Peri tiba-tiba telah berdiri di samping pintu bilik.

Repla tersenyum semringah, beda dengan Clira yang mengheran.

“Ak-aku juga?” Clira tergagap. Repla memandang Ratu Peri menunjukkan keingintahuan yang sama.

“Iya, Clira. Kau pun telah melanggar kode etik peri dengan jatuh cinta pada sesama peri!”

 

 

~HI, 4 Pebruari 2014, Kosan~