BUDAK-BUDAK KORPORASI

7

“Ajen, mana dokumen yang kemarin? Lo janji-janji mulu deh,” ketus Vanda menghampiri Ajen yang sedang sarapan di pantri.
“Eh, setan. Itu sebenernya tugas lo, yah. Masih untung mau gue bantuin!” Ajen merengut.
“Itu tugas lo juga kali sebagai kacung Pak Bos, Nyet!”
“Lo diem atau gak gue kerjain!”
“Lo maunya apa sih? Cari perhatian Pak Bawole doang sih bisanya.”
“Taik lo, yah. Lo pikir gue gak tau hubungan elo ama Pak Aam? Mau gue laporin Bu Hana?” Vanda diam, lalu memucat.
“So-sori, Van. Iya, nanti gue kelarin sebentar lagi.”
Suara berdeham tiba-tiba terdengar dari belakang Ajen. Suara deham Bu Hana.

~HI, 11/9/2014, Jap~

BANGKU TAMAN DALAM KEPALAKU

6

Setiap sore, dia datang. Duduk di sana untuk waktu yang lama. Menikmati bunga-bunga dalam kepalaku. Aku tak berani bertanya untuk apa dia selalu datang ke sini. Kutakutkan justru akulah yang mengundangnya ke sini. Entahlah, yang pasti aku menikmati memandanginya.
Suatu sore, dia tak datang. Bangku taman itu kosong. Lantas, seorang gadis lain mendekat dan duduk di sana. Tidak sendiri, karena tak lama datanglah kekasihnya. Kuajak diskusi keduanya, ini bukan tempat mereka. Mereka menerima dan pergi.
Bangku itu kini kosong. Lapuk dimakan rayap. Ditumbuhi lumut dan alang-alang.
Perasaanku jangan kau tanya. Sebab, bangku itu sudah kusingkirkan ke rubanah, bersama dengan kepala.

~ HI, 10/9/2014, Jap ~

KELAS DUA

9

Mulai hari ini aku sudah kelas dua. Aku sudah mahir baca-tulis-hitung. Aku sudah bisa membaca majalah-majalah usang yang dipulung ayah. Atau menulis surat untuk Santa. Dan tentu saja, membantu ibu menghitung hasil jualan asongnya. Ah, aku sudah tidak sabar menerima ilmu baru yang banyak.

Hari pertama sekolah, materinya hanya saling memperkenalkan diri di depan kelas. Ibu guru memandunya dengan menyenangkan, menanyakan nama lengkap, tanggal ulang tahun, dongeng favorit hingga kegiatan di akhir pekan. Berkat perkenalan ini, aku tahu nama-nama mereka. Meski mereka tak tahu namaku – mereka memang tak perlu tahu karena aku hanyalah siswa yang belajar dari luar jendela.

~ HI, 9/9/201, Jap ~

PETUAH NENEK

15

Kata nenek, ketika berdua akan ada orang ketiga: setan. Setan itu jahat. Setan musuh manusia. Setan menjerumuskan manusia.
Mula-mula: Bibi. Bibi orang ketiga di antara ibu dan bapak. Bibi adalah setan. Setan harus dimusnahkan. Maka kubunuhlah si bibi.
Lalu, adikku. Dia lahir delapan tahun setelahku. Dia juga orang ketiga. Dia setan. Harus kubasmi juga, kan?
Nenek pun pernah jadi setan, ketika dia tinggal lama di rumah kami. Terpaksa kuhilangkan nenek.
Sebenarnya akulah yang pertama kali menjadi orang ketiga. Makanya, kubunuh diriku dua tahun lalu, seminggu setelah nenek memberi petuah. Dan aku, akan selalu menjaga petuah itu.
Iya, sampai sekarang.

~HI, 8/9/14, Jap~

TENTANG TERSERAH

2

Sudah setahun belakangan ini hubunganku dengan Munaroh terbilang hambar. Tak hangat lagi seperti di awal kami mengikat pertalian rumah tangga. Tak ada lagi yang namanya kecupan selamat pagi, masakan hangat di siang hari atau sekadar bercerita menjelang tutup hari.

“Bangun, kamu tidak kerja?” katanya pagi itu, ia berdiri di depan lemari besar sebelah ranjang kami sembari menggelung rambutnya.

Aku tak menjawab pertanyaannya, malah sisi mukaku kualihkan ke arah yang satunya. Tak lama, kudengar pintu terbuka sedikit, “Terserah kamu lah mau kerja apa tidak, yang pasti aku dan anak-anakmu masih butuh makan sampai sekarang!” katanya kemudian diiringi bantingan pintu yang kasar.

Tak tahan, akhirnya aku bangkit dan bergegas menuju kamar mandi. Lagipula aku baru ingat, hari ini aku harus meeting tentang proyek baru di luar kota.

“Aku berangkat, mungkin nanti malam aku pulang agak terlambat!” kataku pada Munaroh, ia sedang menyuapi anakku yang berusia dua tahun.

“Terserah, bukannya setiap hari selalu begitu?” jawabnya sinis. Aku hanya mengangkat bahu menanggapi reaksinya, sembari kuusap rambut anak sulungku, “Papa berangkat dulu yah, Sayang.”

***

 “Aku dapat proyek baru di kantor,” kataku sambil melonggarkan dasi, jas yang tadinya tersampir di punggung kulemparkan begitu saja di atas ranjang.

“Baguslah, itu berarti anak-anakmu masih bisa makan.” Jawabnya tak bersemangat, menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya menjadi daster.

“Proyeknya di luar kota. Aku harus ke luar kota dalam waktu lama,” lanjutku.

“Terserah kamu lah, kamu sendiri yang berhak mengatur hidupmu, mana yang baik dan tidak!” ia melenggang tak peduli, lalu berbaring dan menutupi badannya dengan selimut.

“Kamu jangan terserah saja, aku meminta pendapatmu sebagai istriku, Munaroh!” kujaga suaraku agar tak sampai terdengar ke kamar anak-anak.

“Syukurlah kamu masih menganggapku istrimu,” ia berbalik, lalu berkata sinis.

“Sebenarnya, maumu apa Munaroh? Aku harus bagaimana biar kamu bisa memaafkan kesalahanku?”

“Aku tidak ingin apa-apa, cukup jalani saja kehidupan ini sampai anak-anak  dewasa, lalu selanjutnya terserah, kamu boleh memilih jalanmu sendiri, aku pun sama!”

“Munaroh, aku benar-benar menyesal…”

Belum selesai kalimatku ia memotongnya, “Kamu pikir aku tak tahu soal Ratni? Atau Susan? Sudahlah, Akbar. Kamu tak pandai berbohong! Dan kamu memang tidak pernah berubah.”

Kata-katanya menghantam telak, aku bergeming.

“Kamu diam? Sudah, aku mau tidur!” katanya mematikan lampu meja.

***

“Bangun, kamu tidak kerja?” katanya pagi itu, ia berdiri di depan lemari besar sebelah ranjang kami sembari menggelung rambutnya.

Aku tak menjawab pertanyaannya, malah sisi mukaku kualihkan ke arah yang satunya. Tak lama, kudengar pintu terbuka sedikit, “Terserah kamu lah mau kerja apa tidak, yang pasti aku dan anak-anakmu masih butuh makan sampai sekarang!” katanya kemudian diiringi bantingan pintu yang kasar.

“Munaroh…” sergahku sebelum pintu rapat sempurna.

“Hmm…”

“Ngg.. tidak jadi. Tidak apa-apa.”

Ia memandangku heran lalu menutup kembali pintu kamar.

***

“Aku dapat proyek baru di kantor,” kataku sambil melonggarkan dasi, jas yang tadinya tersampir di punggung kulemparkan begitu saja di atas ranjang.

“Baguslah, itu berarti anak-anakmu masih bisa makan.” Jawabnya tak bersemangat, menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya menjadi daster.

“Proyeknya di luar kota. Aku harus ke… Ngg.. Aku tidak jadi mengambilnya.”

“Hmm.. Terserah, itu kan pilihanmu.” Katanya mematikan lampu meja.

***

“Bangun, kamu tidak kerja?” katanya pagi itu, ia berdiri di depan lemari besar sebelah ranjang kami sembari menggelung rambutnya.

“Iya, terima kasih, Munaroh. Jam berapa sekarang?” kataku mengusap muka.

“Jam enam. Hmm.. Kamu mau kusiapkan air panas?” tanyanya ragu.

Aku mengangguk cepat, kesempatan kali ini aku tidak mau kembali tersasar.

Sementara ia menuju ke luar kamar dengan kening mengernyit, mencuri pandang padaku yang sedikit tersenyum. “Hari ini kamu agak aneh,” katanya.  

 

~~~

*cerita ini merupakan interpretasi lain dari @fiksimini RT @harry_bawole: DI PEREMPATAN JALAN. “Kiri atau kanan? Jangan bilang terserah, sudah setahun kita tersasar.”

 

 

 

~ HI, 25 Mei 2014, Jakarta ~ 

PERKARA TAHI LALAT

2

Lelaki memeluk wanita dari belakang, mengecup tengkuknya lalu membawanya ke tepi ranjang. Mereka bercakap ringan, penat seharian menjenuhkan pikiran.
“Tahi lalatmu itu cantik, coba kamu melamar jadi artis.”
“Aih, artis pendatang baru tak setua aku!”
“Bicara tahi lalat, anak kita nanti mau ditaruh di mana tahi lalatnya?”
“Aku terserah, tapi kusarankan jangan di bawah hidung sepertiku, ini membuat susah bernapas. Atau sepertimu, tepat di pinggir mata, itu mengganggu?”
“Sedikit. Lalu di mana enaknya? Di tengah pipi kanan persis seperti Revalina S Temat, idolaku?”
“Ah, tidak mau, di dagu kiri saja seperti Rano Karno, favorit pada zamanku!”
“Tidak mau, di bawah dagu menjadi bagus jika berkumis, Sayang!”
“Tapi, di tengah pipi tak nyaman dipandang.”
“Di jidat?”
“Susah sujudnya! Di bawah mata?”
“Menghalangi airmata mengalir di pipi, tak indah! Di atas bibir?”
“Itu mengganggu saat ciuman!”
“Lalu di mana?”
Keduanya berpandangan sejenak, terdiam, lalu tersenyum.

Hingga mereka menua dan menjelang ajal, keduanya sepakat tidak memiliki anak, sebelum menemukan letak yang tepat, untuk tahi lalat.

TANYA JAWAB SEPELE

3

“Yang, aku pengen nanya deh. Kenapa yah kok lagu Pelangi itu cuman nyebutin merah, kuning, hijau? Padahal ada warna lain.”
“Hmm, mungkin karena ketiganya itu warna dasar!”
“Yang warna dasar kan biru! Bukan hijau.”
“Iya juga sih. Iseng kali penciptanya.”
“Hmm, trus, tau gak kenapa hanya Sailormoon yang mengambil nama satelit, padahal yang lain nama-nama planet. Itu pertanyaan paling penting yang belum terjawab dari aku kecil!”
“Aku malah lebih penasaran, kenapa tokoh utama cowoknya cuman tuksedo bertopeng!”
“Pesan terselubung tentang poligami? Hahaha…”
“Mungkin.”
“Oia, trus kenapa restoran ini ada kunci pintunya padahal buka 24 jam?”
“Ya, biar sah sebagai pintu aja. Tanpa kunci rasanya kurang afdol. Ada apa, Sayang? Kok nanya-nanya kayak gitu?”
“Gak papa, tiba-tiba kepikiran hal-hal sepele aja.”
“Bertanya tuh hal-hal yang beresensi.”
“Kayak apa?”
“Misalnya, kenapa kamu bisa jatuh cinta ke aku?”
“Kamu soalnya baik dan perhatian ama aku!”
“Suamimu bukannya lebih dari itu? Dia itu sudah tampan, mapan dan mungkin setia!”
“Sekali lagi kamu bahas suamiku, kita putus!”

~HI, 26 Feb 2014, Kosan dongeng sebelum tidur~